![]() |
| Foto.Dok Istimewa |
Jakarta, jejakmedianews.com - Pasar penjualan komputer dan laptop pada tahun 2026 mengalami perlambatan signifikan.
Kondisi ini dipicu oleh kenaikan harga komponen utama, khususnya memori (RAM), serta pergeseran industri semikonduktor ke kebutuhan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ketua IT Kadin Jakarta Selatan sekaligus Owner PT Captain Laptop Corp, Ridwan Rifai, menyampaikan bahwa tekanan pada pasar perangkat elektronik sudah mulai terasa sejak awal tahun.
Menurutnya, kelangkaan chip memori menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas harga dan ketersediaan produk di pasaran.
“Penjualan komputer di 2026 memang cenderung lesu. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran kelangkaan chip memori yang berdampak langsung pada harga perangkat,” ujar Ridwan, Jumat (13 Maret 2026).
Ia menjelaskan, sepanjang 2025 sempat terjadi lonjakan pembelian komputer, baik dari masyarakat maupun pelaku industri.
Namun, kondisi tersebut berbalik di tahun ini seiring meningkatnya harga komponen.
Kenaikan harga RAM, khususnya DDR4 ECC, disebut cukup signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan, tingginya permintaan dari sektor data center, serta fluktuasi distribusi komponen hardware.
Bahkan, penawaran harga dari distributor kini hanya berlaku dalam waktu singkat, sekitar tujuh hari, karena perubahan harga yang sangat dinamis.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada produk baru, tetapi juga merambah ke pasar komponen bekas. Permintaan terhadap RAM server bekas, terutama jenis ECC, meningkat tajam.
Komponen yang sebelumnya kurang diminati kini justru memiliki nilai jual tinggi dan cepat terserap pasar.
“Bahkan RAM dari server rusak pun masih memiliki nilai ekonomi dan banyak diburu,” ungkap Ridwan.
Melihat kondisi tersebut, pihaknya mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi server dan RAM dalam berbagai kondisi, termasuk unit yang sudah tidak berfungsi.
Langkah ini dilakukan untuk mengamankan stok di tengah tingginya permintaan pasar.
Lebih lanjut, Ridwan menilai tren kenaikan harga ini berpotensi meluas ke berbagai perangkat elektronik lainnya, mulai dari komputer pribadi, ponsel pintar, hingga peralatan rumah tangga.
Menurutnya, lonjakan permintaan chip dipicu oleh pesatnya adopsi teknologi AI. Produsen semikonduktor saat ini lebih memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan AI server, sehingga pasokan chip konvensional untuk perangkat konsumen menjadi terbatas.
Kondisi ini berdampak langsung pada biaya produksi laptop. Porsi biaya komponen utama seperti RAM, SSD, dan CPU meningkat dari sekitar 45 persen menjadi hampir 58 persen dari total biaya produksi.
“Jika seluruh kenaikan biaya dibebankan ke konsumen, harga laptop mainstream bisa naik hingga 40 persen,” jelasnya.
Sebagai gambaran, laptop dengan harga sebelumnya sekitar 900 dolar AS atau setara Rp15 juta, berpotensi naik menjadi lebih dari 1.200 dolar AS atau sekitar Rp20 juta.
Kenaikan harga tersebut berimbas pada penurunan permintaan. Pengiriman global PC diperkirakan turun hingga 12 persen, sementara segmen perangkat murah di bawah 500 dolar AS bisa mengalami penurunan hingga 28 persen.
Fenomena ini terjadi karena konsumen cenderung menunda pembelian, sementara perusahaan memilih memperpanjang masa pakai perangkat lama.
Di sisi lain, produsen mulai mengubah strategi dengan fokus pada laptop premium yang memiliki margin lebih tinggi, mengurangi produksi perangkat murah, serta menambahkan fitur berbasis AI untuk meningkatkan daya tarik produk.
Selain itu, peralihan teknologi dari DDR4 ke DDR5 yang lebih mahal turut mempersempit ketersediaan RAM untuk pasar konsumen.
“Kondisi ini memaksa pabrikan berada di persimpangan, antara menaikkan harga atau mempertahankan harga dengan spesifikasi yang stagnan,” pungkas Ridwan.
Dengan berbagai tekanan tersebut, pasar perangkat komputer di 2026 diperkirakan masih akan menghadapi tantangan hingga kondisi pasokan dan harga komponen kembali stabil.
(Nikko)

Posting Komentar