Serangan di Lebanon dan Harga Perdamaian yang Terlalu Mahal

 

Foto.Dok Istimewa 



Oleh: Arif Martha Rahadyan


Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon selatan dalam dua hari. Bagi saya, ini bukan sekadar berita duka — ini tamparan keras bahwa dunia sedang gagal melindungi mereka yang justru dikirim untuk menjaga perdamaian.


Pasukan UNIFIL, termasuk kontingen Indonesia, hadir bukan untuk berperang, tapi untuk mencegah perang. Ketika mereka menjadi sasaran bom di Bani Hayyan dan artileri di Adshit al-Qusyar, artinya garis merah hukum internasional telah dilanggar. PBB menyebutnya bisa masuk kategori kejahatan perang. Saya menyebutnya pengkhianatan terhadap kemanusiaan.


Konflik Israel–Hizbullah yang kembali meledak sejak Maret 2026 menempatkan pasukan perdamaian di posisi mustahil: menjaga gencatan senjata sambil jadi sasaran. Jika dunia diam, maka kita semua ikut merusak fondasi perdamaian.


Indonesia perlu mendorong investigasi transparan dan perlindungan maksimal bagi prajurit kita. Pengorbanan mereka tidak boleh sia-sia. Kita berutang penghormatan, tapi lebih penting: jaminan bahwa misi kemanusiaan tidak lagi berbalas peti mati.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama